Go!Blog!

Rumah Tua (Cerita Misteri)

Posted on: November 30, 2009

haunted_house.jpgCerpen, bukan yang pertama sih, tapi ini yang cerpen hororku yang pertama. Just a bit not so satisfied with the ending, but hell… enjoy it!!🙂

~~~~~~~~~~~~~

‘Ngg…..’, dengungan lampu TL itu berbunyi konstan, seperti gerungan mesin mobil mewah, halus, tanpa bunyi ‘kasar’. Sebuah master piece di dunia permesinan, tapi tidak untuk sebuah lampu. Dengungan pada lampu TL tandanya lampu sudah harus diganti. Aku berjalan mendekati gerbang rumah. ‘Ya, tinggal satu rumah lagi.’, pikirku menenangkan diri.

Sudah hampir seminggu ini aku harus berkunjung dari rumah ke rumah. Demi tugas, demi baktiku pada tetanggaku, inilah tugas pertamaku menjadi ketua RT, menagih iuran bulanan ke warga RT-ku. Warga yang sudah ‘berbaik hati’ padaku. ‘Berbaik hati’ mengorbankan aku menjadi ketua RT. Tak peduli aku orang baru di sini, pun juga tak bergeming ketika aku menolak karena kesibukanku, karena harus bekerja ke kota di hari terang, pulang ke rumah ketika hari sudah gelap.

‘Akhirnya terpilih juga ketua RT kita yang baru, Pak Ahmad. Menggantikan Pak Rahmad yang sudah menjadi ketua RT selama hampir 30 tahun. Semoga Pak Ahmad diberi kekuatan dan kesabaran dari Allah SWT untuk mengemban amanah ini. Amin.

Selanjutnya, sebagai ketua RT yang baru Saya minta dengan hormat kepada Pak Ahmad untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sambutan.’

Itulah sepenggal sambutan Pak RW ketika aku terpilih jadi ketua RT. ‘Sial!! Kenapa harus aku ??’, rutukku dalam hati. ‘Paling tidak dengan ini aku akan lebih cepat mengenal tetangga-tetanggaku daripada kalau aku tidak menjabat ketua RT’, kucoba mengambil hikmah dan berpikiran baik.

Dengungan lampu neon itu masih terdengar, semakin keras karena aku berjalan mendekatinya. Kali ini aku harus berjalan melingkar, karena disisi kiri jalan ada genangan air. Lumayan besar, sisa hujan deras yang turun sepanjang siang sampai sore tadi. Aku harus memutari genangan itu karena gerbang ke rumah terakhir yang harus aku kunjungi ada di ujung sebelah sana.

Malam tampak gelap, lebih gelap dari biasanya meski Seiko di tangan kiriku masih menunjukkan pukul 8 lebih sedikit. Sisa-sisa mendung menghalangi sinar bulan, membuat malam ini lebih gelap. Perasaanku jadi tak nyaman.

Baru separuh genangan aku lewati, bunyi kemrosak yang tiba-tiba menghentikan langkahku sejenak.

Krosaaakk….buk…… krosak…krosak…krosak…. pyasss…..

Sebuah sukun jatuh, tepat di tengah genangan. ‘Innalillahi…’, spontan aku menyebutnya. Jatuhnya buah sukun itu menyipratkan air genangan, dan sukses mengotori baju dan celanaku tanpa aku bisa menghindar. Cipratan-cipratan kecil malah langsung ke mukaku. Aku hanya bisa mengutuk dalam hati.

Kulihat buah sukun itu tergeletak di tengah genangan. Tampak buah sukun muda, cekungan memanjang menghiasi kulit hijaunya, mungkin terkena dahan waktu terjatuh tadi. Sambil menyeka muka dan bajuku dengan saputangan, aku melanjutkan perjalanan tak lupa aku periksa buku besar yang aku apit di lenganku sejak tadi, Buku sakti Pak RT. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di gerbang rumah.

Dengungan lampu neon masih terdengar, entah karena jantungku yang masih berdebar kencang karena kaget akibat jatuhnya buah sukun tadi mempercepat aliran darahku dan membuat telingaku menjadi lebih peka dari biasanya atau karena memang dengungan itu terdengar semakin keras. Ketika aku menginjakkan kaki tepat di gerbang, tiba-tiba…..

‘NGGG…. Krakle…krakle…. Pet…’, lampu penerangan jalan yang sudah mendengung dari tadi padam. Pandanganku jadi gelap, mataku harus menyesuaikan keadaan. Untung cahaya kekuningan dari rumah masih terlihat, meski samar-samar menerangi jalanan menuju rumah. Padamnya lampu tak urung menghentikan langkahku, aku tak mau terjatuh karena kakiku terantuk batu atau terpeleset selama pandanganku masih kabur karena harus menyesuaikan diri.

‘Aduh, harusnya tadi aku bawa lampu senter!’ sesalku. Tapi apa lacur, tinggal satu rumah ini saja. Masak harus ditunda besok ?

Kali ini aku harus berhati-hati. Satu-satunya sumber penerangan cuma dari rumah tua di ujung sana. Cahaya kuning pucat samar-samar menerangi jalan, tapi tak cukup terang. Aku terpaksa harus berhati-hati melangkah. Rimbunan daun pohon di kiri kanan jalan semakin membuat jalan itu tampak gelap.

Sambil sesekali melihat ke arah jalan aku memandangi rumah itu. Rumah tua berarsitektur kuno jaman penjajahan. Berdinding tebal, tampak kokoh dan anggun sekaligus angkuh. Berdiri di tengah kebun luas. Mungkin ini adalah rumah dengan halaman terluas di wilayah RT-ku.

Bau wangi bunga kamboja tiba-tiba tercium. Tak pelak bulu romaku berdiri, membuatku merinding. Perasaanku semakin tak nyaman. Hii…. Kata orang kalo mencium wangi bunga kamboja di malam hari seperti ini tandanya ada makhluk halus di sekitar kita. ‘Ah, mitos. Mungkin ada bunga kamboja di tengah kebun ini, di belakang pohon-pohon ini.’, ku coba menenangkan diri. Tapi tak urung perasaan aneh masih menyelimutiku. Seperti ada seseorang atau sesuatu yang mengawasiku.

‘huuu….. huuuu….’

‘Aduh, kenapa juga ada burung hantu di sekitar sini ?’, aku semakin merinding. ‘Apa aku sebaiknya pulang saja ? Ah, tanggung tinggal satu lagi.’

Aku mempercepat jalanku, biar cepat sampai dan cepat selesai. Wangi bunga kamboja masih tercium, semakin dekat ke arah rumah itu semakin tajam kurasakan baunya, burung hantu pun masih beruhu-uhu. Seperti memperingatkan aku akan terjadi sesuatu. Jalanku makin cepat.

‘Innalillahi…!!’, spontan aku mengucapkannya. Aku terpeleset, ternyata aku menginjak tanah berlumut. Tergesa-gesa membuatku kurang hati-hati memilih jalan. Ha..ha.. kenapa aku jadi penakut begini? Aku menertawakan diriku sendiri.

Untung aku tidak terjatuh dengan telak. Aku masih bisa bertumpu pada kedua lenganku dan lututku, meski aku harus rela buku sakti Pak RT terlepas dari genggamanku. Aku meringis kesakitan. Sambil bangkit aku bersihkan lenganku dengan sapu tangan yang sudah kotor, juga lututku. Tak ada luka berarti di kedua lenganku, hanya memerah. Mudah-mudahan tidak apa-apa.

Kuperiksa kedua lututku dengan memutar-mutar kakiku. Tak ada yang sakit kecuali sedikit nyeri di bagian depan mungkin cuman goresan, insyaAllah gak papa. Setelah mengambil buku yang terjatuh beberapa meter di depanku, dengan terpincang aku berjalan menuju rumah itu.

Akhirnya sampai juga di depan rumah.

Rumah ini tampak besar dan anggun. Sayang tidak terawat. Rumput liar tumbuh di halaman, dan hampir di setiap sudut. Malah di sepetak tanah yang kemungkinan dulunya sebuah taman rumput tumbuh lebih lebat dan tinggi. Lapisan tembok banyak yang mengelupas di sana-sini. Seakan-akan rumah itu tak berpenghuni.

Tapi aku salah, rumah itu berpenghuni. Karena di teras, aku melihat ada perempuan duduk tertidur dengan tenang di kursi goyang.

Aku berjalan mendekat. Menaiki undakan menuju teras. Khas rumah berarsitektur belanda, selalu punya undakan sebelum masuk teras.

‘Assalamualaikum,’ kuucapkan salam pada wanita itu.

Tak ada jawaban, aku berjalan mendekatinya. Wajahnya pucat, seperti sedang sakit. Matanya terpejam, wajahnya yang cantik tampak tenang. Rambutnya yang panjang di gulung menjadi sanggul, khas kaum ningrat, dibelakang kepalanya yang bersandar di kursi. Bukan bersandar tepatnya karena kepalanya seperti terkulai lemas, menunduk hampir menyentuh pundaknya. Rambutnya berhias uban putih, hampir rata di setiap helainya.

Aku terpesona dengan kecantikannya. Aku perhatikan wajahnya dengan seksama, dari jauh tentunya. Hidungnya mancung, lebih mancung daripada hidungku. Bibirnya tipis, merah, tapi bukan karena lipstick, alami. Tulang pipinya sedikit terangkat, menambah pesona kecantikannya. Alisnya lebat, tak terlalu tebal tapi rapi sesuai dengan bentuk wajahnya yang oval. Dahinya penuh, dihiasi rambut-rambut halus di bagian atas dan ada bekas luka di pelipis kirinya. Bekas darah yang mengering masih menempel, mungkin luka baru dan belum sembuh. Cahaya kuning dari penerangan membuat wajahnya terkadang tampak samar, seakan-akan dia adalah sekedar bayangan.

‘Assalamualaikum’, aku ulangi salamku. Sedikit lebih keras agar dia terbangun.

Matanya masih terpejam. Tak bereaksi. Wanita itu memakai kebaya dan berjarit. Kebaya mahal sepertinya. Bahannya terlihat bagus. Jaritnya bermotif parang kusumo, membelit bagian bawah tubuhnya sampai kakinya tertutup. Agak aneh, mungkin karena udara malam ini dingin, dia tidak ingin kedinginan. Tapi kenapa malam-malam dingin begini masih di teras ? Tangan kanannya terkulai lemah di samping lengan kursi. Terayun-ayun mengikuti irama goyangan kursi.

Kriyet….kriyeet…. kursi itu bergoyang seperti ada yang menggerakkan. Bunyinya menggelitik telingaku. Geli yang aneh.

Aku melangkah selangkah mendekat, ‘Assalamualaikum’. Tetap tak ada jawaban. Melihat pucat wajahnya, hampir saja aku menyangka dia sudah menjadi mayat kalau saja dia tidak tiba-tiba mengangkat tangannya yang menggantung. Dia memindahkan kedua tangannya ke pangkuannya, membuatku kaget. Jantungku hampir copot karena terkejut. Tapi matanya tetap terpejam. Tak bereaksi pada salamku.

Kuulurkan tanganku, berniat untuk membangunkannya. Tapi sesuatu menghalangiku. Sesuatu itu tiba-tiba saja meloncat ke arahku. Cepat dan dalam sekejap. Sesuatu itu berwarna hitam, aku tak begitu jelas melihatnya melompat ke arahku, menyambar tanganku yang terulur. Aku terkejut dan spontan aku mundur beberapa langkah.

Tapi sayang, aku tak lebih cepat darinya. Dia menangkap tanganku.

‘Ouch..’, aku berteriak spontan. Dan aku melihatnya lari, ke halaman… dan terus menuju rimbunan pepohonan. ‘Dasar kucing sialan!!’, kurasakan perih. Tangan kananku terluka, tidak terlalu parah tapi pedih. Kupegangi tanganku. Akhirnya ku urungkan niatku membangunkan wanita itu dari tidurnya.

Kuputuskan untuk berjalan ke arah pintu. Pintu kupu tarung kokoh berbahan jati itu berlapis dua. Satu lapis di luar, satu lapis lagi di dalam. Pintu terluar sudah terbuka, menyisakan pintu bagian dalam yang tertutup. Aku menoleh lagi ke belakang, kearah wanita berkursi goyang, berharap dia terbangun dan menyambutku sebagai tamu. Tapi ternyata tidak.

Bau harum kamboja masih tercium. Aneh, padahal di halaman tadi aku tak melihat ada pohon kamboja. Tapi kenapa masih tercium baunya sampe kesini ? Nyaliku mulai menciut. Bulu kudukku berdiri. Aku merinding. Lagi-lagi aku berniat pulang. Hari minggu saja ke sini lagi, siang-siang. Jantungku berdetak kencang, sampai-sampai aku bisa mendengarnya. Dug…dug…dug…dug…. Suara jantungku berdegup, lebih kencang dari biasanya.

Aku terdiam, terpaku di depan pintu. Keringat dingin kurasakan meleleh di pelipis kananku. Jantungku masih berdetak kencang. Aku ingi berlari pulang. Alih-alih kakiku bergerak melangkah, yang ada malah tanganku yang bergerak kearah pintu, siap mengetuk. Bau harum masih menyeruak memenuhi rongga hidungku. Membuatku bergidik. Waktu seakan berjalan sangat lambat.

Ku ayunkan tangan kananku untuk mengetuk.

‘Brak!!’, suara yang entah dari mana mengagetkanku disusul lengkingan suara kucing yang sedang marah. Membuat tubuhku melonjak. Wajahku pucat pasi. Lututku gemetar, lemas. Untung aku masih kuat berdiri, meski seluruh tubuhku gemetar ketakutan.

‘Tenang… tenang… itu pasti cuman papan kayu yang terjatuh. Pasti kucing sialan tadi’, pikirku menenangkan diri. Tanganku masih terangkat siap mengetuk. Bunyi kriyet..kriyet dari kursi goyang masih terdengar. Selain itu tak ada lagi bunyi lain. Hening. Hening yang aneh. Udara dingin terasa berat, tapi tak bisa menghentikan keringat dinginku yang terus keluar.

Belum juga aku mengetuk pintu meski tangan sudah terangkat, pegangan pintu berputar, seperti ada yang memutar dari dalam. Perlahan pintu terbuka. Udara hangat dari dalam rumah kurasakan mengalir keluar. Mengusir bau harum kamboja yang baru aku sadar sudah tak tercium lagi. Bersamaan dengan menghilangnya bau harum kamboja, bau wangi kemenyan ganti meraja. Baunya tajam seakan menusuk indra penciumanku.

Wanita muda berdiri dihadapanku. ‘Ini pasti anak wanita itu.’ Aku membatin. Kulitnya putih, tampak pucat sama seperti kulit ibunya. Rambutnya panjang terurai sampai pinggang, sebagian menutupi wajahnya. Sulit aku mengenalinya, pun juga melihat ekspresi wajahnya.

‘Assalamualaikum. Bapak ada, nduk[1]? Saya ketua RT yang baru. Bapak ada ?’, ujarku membuka percakapan.

Dia diam tanpa berkata, tangannya memberikan isyarat untukku. Aku masuk dan duduk di salah satu kursi mengikuti isyarat tangannya. ‘Ah.. mungkin dia malu.’

Bau kemenyan tak juga hilang, bahkan semakin menusuk ketika aku masuk ke ruang tamu. Berkali-kali ku gosokkan tangan ke hidungku, berharap bau itu hilang. Tak berhasil. Perempuan muda itu sudah masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan aku sendiri di ruang tamu.

Luas sekali ruang tamu ini, mungkin seluas rumahku. Dua set kursi tamu ada di sini. Satu set kursi tamu bergaya kuno, penuh ukiran di sepanjang lengan dan kepala kursi. Berdebu, seakan sudah bertahun-tahun tak ada tamu yang duduk disitu. Satu lagi satu set kursi polos, tanpa ukiran, beralaskan anyaman rotan. Di situlah aku duduk menghadap tembok dengan lukisan tergantung di atasnya. Lukisan keluarga.

Seorang perempuan cantik duduk di kursi tanpa sandaran, di sebelah kirinya ada anak perempuan cantik secantik ibunya. Sedang sang ayah berdiri dibelakang sang ibu. Tangan kanannya memegang pundak ibu dan yang kiri di pundak sang gadis. Mereka bertiga tersenyum. Bahagia. Serasi sekali mereka. berpakaian adat Jawa, sang ayah tampak gagah berwibawa sedang sang ibu dan anak tampak cantik dan anggun berkebaya. Tepat dibawah lukisan ada sebuah lemari kayu pendek, berpenutup kaca di bagian depannya dan beberapa bingkai foto di atasnya, salah satunya roboh.

Gelas-gelas cantik, cangkir-cangkir antik dan tatakannya mendominasi isi lemari kaca itu. Mereka tampak kusam berdebu.

Entah kenapa jantungku terus berdegup kencang seperti tak ada tanda-tanda akan melambat. Aku semakin tidak tenang. Sudah berkali-kali aku mengedarkan pandangan mengelilingi ruangan. Aneh, di ruangan seluas ini aku merasa pengap. Keringat masih terus mengalir. Andai rumah ini terawat mungkin aku bisa tenang. Tapi, suasana ini membuatku merinding. Hening. Sunyi. Ditambah lagi bau menyan yang tak juga hilang. Hanya suara angin yang mendesau dan gesekan dahan dan ranting sesekali terdengar dari luar. Tak ada suara jangkrik, tak ada suara serangga malam, tak ada suara kodok. Tak ada suara. Hening. Aku semakin gelisah. Tapi sudah terlanjur, aku sudah masuk ke rumah ini. Tinggal menunggu tuan rumah.

Dudukku tak tenang. Berkali-kali aku mengubah posisi dudukku. Bersandar di sandaran kursi, atau tangan bertumpu di lengan kursi sambil menahan dagu, mengangkat sebelah kaki. Hampir 20 menit aku duduk, tapi tak ada tanda-tanda tuan rumah datang dari dalam rumah. Sekali lagi aku edarkan pandangan mengelilingi ruangan. Tiba-tiba aku tertarik pada jajaran bingkai foto di atas lemari kayu.

Aku berdiri, kudekati lemari kayu itu. Ku ambil bingkai foto yang roboh. Ada sedikit retak di kaca penutupnya. Buram tertutup debu. Aku mengusap hidung, mencoba mengusir bau kemenyan. Ternyata bukan foto yang di bingkai, tapi guntingan Koran.

Kubersihkan kaca bingkai itu sebagian dengan tanganku. Tampak gambar rumah, dan sebuah foto laki-laki tampan di bagian pojok kanan bawah. Sepertinya aku kenal rumah di gambar ini. Lah… ini kan foto bagian depan rumah ini. Aku semakin penasaran. Ku bersihkan lagi. Kini hampir seluruhnya terlihat. Aku tertegun. Jantungku seakan berhenti berdetak, nafasku tercekat, keringatku semakin deras… aku gemetar… tanganku gemetar, kaki ku gemetar… . Aku tak percaya dengan yang aku baca. ‘Pengusaha Depresi Membunuh Istri dan Anak Gadisnya dengan Sadis’. Jangan-jangan, perempuan yang di kursi goyang tadi ?? dan wanita muda yang membukakan pintu untukku…. Adalah…. Aku terkesiap. Tubuhku semakin gemetar ketakutan.

Bingkai foto itu lepas dari peganganku, jatuh di atas lemari kayu dengan suara kemlotak. Aku membalikkan tubuh… siap-siap melangkah dan berlari….

‘Tok….sreett….tok…sreettt…’, suara itu menghentikan niatku. Aku terdiam. Pias wajahku. Diam di tempatku berdiri. Masih gemetar. Suara apa itu ? kenapa baru terdengar sekarang ? Suara itu seperti suara orang berjalan dengan tongkat. Tapi siapa ? dari mana ? Aku semakin penasaran sekaligus takut.

‘Siapa itu ?’, aku berteriak. Suara tok-tok itu berhenti, tapi tak ada jawaban.

Sejenak kemudian terdengar lagi …

‘Tok…. Tok…. Tok….’, kali ini semakin jelas datangnya dari dalam rumah, mendekat ke ruang tamu. Aku semakin ketakutan.

‘Tok…’, telapak tanganku basah oleh keringat.

‘Tok…’ , semakin dekat. Kucoba berpegangan pada lemari kayu di belakangku. Erat sekali, sampai tanganku terasa sakit karena menggenggam terlalu kuat. Tapi ketakutan mengalahkan rasa sakitku.

‘Tok…tok….’ beberapa langkah lagi mungkin sumber suara itu terlihat.

Sudah terlambat untuk lari. Akhirnya, kuketahui juga dari mana suara itu. Seorang kakek tua berdiri di sana dengan tongkatnya. Rambutnya riyap-riyapan, awut-awutan tak terawat. Tubuhnya agak bungkuk, tapi masih terlihat kegagahannya. Matanya cekung, ada kantung dibawah kelopaknya. Pipinya kempot. Kulitnya keriput. Hidung mancungnya sedikit bengkok. Wajahnya jelek… jelek sekali, menakutkan malah. Bajunya sedikit kebesaran, terlihat longgar di tubuhnya yang mulai kurus. Beskap jawa warna gelap berkerah tinggi, itu yang dipakainya.

Aku terpaku, diam tak bergerak di tempatku berdiri. Aku menatap lekat sang kakek tua itu. Tak berani bergerak atau berbicara. Nafasku memburu. Jantungku berdegup tak karuan. Dadaku naik turun dengan cepat.

Kakek tua itu memandangku. Aku memicingkan mata. Berusaha tidak melihat wajahnya yang menakutkan itu. Tiba-tiba kakek tua itu tersenyum. Bukan senyum indah, karena tak ada gigi lengkap di sana. Giginya sudah banyak yang tanggal, yang tersisa satu atau dua yang makin membuat wajahnya semakin menakutkan. Giginya tak lagi putih, coklat cenderung hitam malah. Aku semakin ketakutan.

Ada yang meleleh dari mulut kakek tua. Cairan warna kemerahan, perlahan menetes dari mulutnya. Apakah itu darah ? Aku mengalihkan pandangan dari muka kakek. Pandanganku tertuju pada jari-jarinya yang tertumpu di tongkat kayunya. Ada sebentuk cincin disana. Cincin yang entah bagaimana aku merasa pernah melihatnya.

Entah kenapa tubuhku semakin gemetar tak terkendali, firasatku mengatakan ada yang tak beres dengan kakek tua ini. Nafasku semakin kencang, jantungku berdegup kencang. Kakek tua itu tetap tersenyum, memamerkan gigi ompongnya yang kecoklatan. Dia tertawa semakin lebar.

‘Hihihihi…. Hihihihihihihi….’, bukan lagi senyum tapi tawa sekarang. Ketawanya membahana, dingin, dan bengis.

‘Tok… tok…’, dia beringsut maju. Ke arahku. Aku ketakutan. Amat sangat. Setiap kakek itu melangkah maju, aku melangkah mundur.

‘Tok…’

‘Tok…’, ‘Hihihihi…. Hihihihihihihi….’, tawanya tak juga reda.

Sampai akhirnya aku terpojok. Di belakangku sudah tembok. Tak ada tempat lagi untuk mundur.

‘Tok…’ dia terus maju. ‘tok…’, semakin dekat denganku.

‘Tok…’, tinggal beberapa langkah lagi. ‘Hihihihi…. Hihihihihihihi….’, semakin kencang aku mendengarnya. Kali ini dia mengulurkan tangannya. Aku tercekat… ‘Aku tidak mau mati konyol disini. Aku harus keluar!’

Entah kekuatan dari mana aku berhasil mengangkat kaki dan berlari, tak lupa ku sambar buku sakti-ku yang tergeletak di meja. Tawanya masih melengking.

Aku berlari keluar… seperti orang kesetanan…. di teras sambil berlari tak sengaja pandanganku mengarah ke kursi goyang. Kursi goyang itu sekarang kosong!! Aku semakin mempercepat lariku. Tak perduli lagi dengan kakek itu, tak perduli lagi dengan iuran bulanan… aku berlari seperti dikejar setan… tak pernah aku berlari secepat ini… aku berlari…. berlari…. terus berlari…..

Rumah tua itu memang angker.

 

 


 

[1]Panggilan pada anak perempuan. (Jawa)

Gambar di ambil dari sini

Powered by Zoundry Raven

Del.icio.us : , , , ,
Technorati : , , , ,

1 Response to "Rumah Tua (Cerita Misteri)"

teruslah asah kemampuanmu menulis kang…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: