Go!Blog!

Nabi Palsu ? (sebuah Perenungan)

Posted on: February 22, 2008

Attention!!! Artikel di bawah ini bukanlah hasil pemikiran sayah. Tapi saya kopas dari salah satu milis yang saya ikuti. Segala pertanyaan, mohon di tujukan ke beliau.

Ada seorang lelaki yang tiba-tiba bikin heboh sebuah negeri. Setelah
menyendiri (bertapa?) di sebuah gunung selama beberapa waktu, lelaki
yang dikenal berasal dari keluarga baik-baik itu mengumumkan kalau ia
baru saja mendapat wahyu. Lelaki itu mengklaim, “Tuhan baru saja
mengangkat aku sebagai utusan-Nya”

“Apa maksud Tuhan mengirim seorang utusan (rasul) untuk negeri ini?”
tanya seorang nenek yg kebingungan.

“Penduduk negeri ini telah banyak melakukan dosa. Tuhan kirimkan
berbagai bencana dan musibah, namun kalian tidak juga memohon ampun
dan menyembah-Nya,” sang utusan menjawab.

“Tapi bukankah kita sudah memiliki agama dan kepercayaan yang
diajarkan dan diwariskan kepada kita sejak ratusan bahkan ribuan
tahun yg lalu? Mengapa harus ada rasul yang baru? apakah ajaran yg
selama ini kami peluk dianggap salah?”

“Aku datang untuk membenarkan dan sekaligus menyempurnakan ajaran yg
kalian anut selama ini.

Tanpa sadar kalian sudah bergeser dari inti
ajaran yg Tuhan turunkan sebelumnya. Kehadiranku untuk menyelamatkan
kalian,” begitu sabda sang utusan.

“Baiklah…baiklah. Tapi mengapa harus engkau yg mendapat wahyu?
Bukankah kami melihat engkau sbg orang biasa? Engkau tidak pernah
mempelajari kitab suci kami dengan cara yang benar spt yang dilakukan
oleh para guru dan orang tua kami? Tahu apa engkau ttg kitab suci
sampai berani mengklaim menerima wahyu?”

Sang utusan kembali tersenyum dan menjawab, “kesombongan para guru
agama kalian akan kitab suci telah membutakan hati. Mereka tidak lagi
bisa menerima kebenaran di luar pemahaman mereka yg sudah berabad-
abad. Kalian iri hati dan kebingungan ketika orang biasa seperti aku,
yang berjalan di pasar dan duduk-makan-minum spt layaknya dirimu,
tiba-tiba mendapat anugerah berupa wahyu. Kalau Tuhan berkuasa atas
segala sesuatu maka tentu Tuhan berkuasa pula untuk memiliki hak
prerogatif mengangkat seorang Rasul yang Dia kehendaki. Dan itulah
aku”

“Ah…tidak mungkin,” teriak seorang tua yg memakai sorban di
kepalanya. “Tuhan tidak mungkin mengirimkan Rasul baru. Pintu kenabian
dan kerasulan sudah terkunci berabad-abad lamanya. Anda sudah menghina
kitab suci kami”

Dengan tenang sang utusan menjawab, “Bukankah Nabi sebelumnya sudah
berpesan bahwa di akhir masa nanti akan datang juru selamat, orang
yang dijanjikan untuk membantu kalian melawan kezaliman dan
kedurhakaan? Akulah orang yang sudah disebutkan secara samar-samar
oleh nabi sebelumnya?”

“Tidak mungkin! kitab suci jelas-jelas menolak hal tsb.” sergah
seorang yg berjanggut panjang.

Saat itu massa semakin banyak berkerumun, dan mulai ada yg terbakar
emosi.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa pemahaman kalian terhadap kitab suci
sudah membuat kalian buta akan kebenaran. Sejumlah ayat dan sabda yg
secara tersirat membuka peluang kehadiran utusan berikutnya telah
kalian tutup-tutupi. Para pemuka agama telah menutup pintu kenabian;
padahal Tuhan tidak pernah menutupnya. Sekali lagi, akulah orang yg
kalian tunggu-tunggu selama ini (apapun sebutan yg kalian berikan:
ratu adil, messiah, mahdi, nabi, rasul dan lainnya)”

Seseorang mulai menghunus pedangnya. Yang lain mengumpulkan bebatuan.

Dengan tenang sang utusan mengatakan, “Buka kembali kitab suci kalian.
Semua utusan Tuhan pada mulanya didustakan dan dinistakan oleh
ummatnya sampai azab Tuhan turun. Apakah kalian akan kembali
mendustakan utusan Tuhan spt ummat sebelumnya? Aku khawatir kalau
azab Tuhan turun nanti, sudah sangat terlambat bagi kalian untuk
mempercayaiku. Jangan tunggu sampai Tuhan murka!”

“Pembohong!”

“”Penipu!”

“Tangkap!”

“Bunuh!”

“Aliran sesat!”

Para pemuka agama kemudian berkumpul membahas nasib orang yang berani-
beraninya mengaku menerima wahyu tsb.

Kawan,
Dan sejarah selalu berulang: di setiap masa, pada suatu tempat, selalu
ada orang yang mengaku-ngaku menerima wahyu dan diangkat sebagai
utusan-Nya. Selalu saja kemudian masyarakat heboh dan bergejolak.

Tidak…tidak…saya tidak berbicara mengenai al-Qiyadah al-
Islamiyah, Lia Salamullah atau Mirza Ghulam Ahmad. Saya sedang
merekonstruksi ulang kisah Para Nabi yang diceritakan al-Qur’an: Nuh,
Luth, Isa, Muhammad, dan Nabi-nabi lainnya. Andaikan kita hidup pada
masa lampau, apakah reaksi kita juga akan sama?

Pada mulanya mereka yg beriman kepada orang yg mengaku menerima wahyu
akan dianggap sesat. Namun kemudian seiring bergulirnya waktu para
pengikut Rasul yang baru justru menganggap mereka yg tidak percaya
kepada sang rasul -lah yang termasuk golongan sesat.

Siapa yg sesat dan siapa yang beriman? Wa allahu ‘alam

Mari kita panjatkan doa:

Allahhumahdina fiman hadait
Wa ‘afina fiman ‘afait
Watawallana fiman tawallait
Wabariklana fima a’thait
Waqina syarramaa qadhait
fa innaka taqdhi wa la yuqhda alaika

salam hangat,
Nadirsyah Hosen

1 Response to "Nabi Palsu ? (sebuah Perenungan)"

Urun rembug:

Klo pemahaman saya adalah seperti apa yang disampaikan oleh penulisnya sendiri di bagian ini:
Saya sedang
merekonstruksi ulang kisah Para Nabi yang diceritakan al-Qur’an: Nuh,
Luth, Isa, Muhammad, dan Nabi-nabi lainnya. Andaikan kita hidup pada
masa lampau, apakah reaksi kita juga akan sama?

Di situ penulis melakukan sentilan terhadap sikap yang akan kita lakukan seandainya kita berada di jaman nabi dan pada saat itu seseorang nabi baru telah di utus.

Selanjutnya beliau mengambil kesimpulan dari kisah-kisah umat nabi-nabi:
Pada mulanya mereka yg beriman kepada orang yg mengaku menerima wahyu
akan dianggap sesat. Namun kemudian seiring bergulirnya waktu para
pengikut Rasul yang baru justru menganggap mereka yg tidak percaya
kepada sang rasul -lah yang termasuk golongan sesat.

Pernyataan ini juga diyakini oleh pengikut orang-orang yang mengaku nabi pada masa sekarang ini, saya pernah melihat dalam acara berita di sebuah TV dimana para pengikut orang yang mengaku nabi mengatakan hal yang senada.

Islam sendiri dengan tegas menyatakan bahwa Muhamad SAW ada seorang rasul dan nabi terakhir, dimana tidak akan ada nabi yang baru. Jadi jika ada orang yang mengaku-aku sebagai seorang nabi baru biarlah orang tersebut membuat agama yang baru misalnya di beri nama Agama X atau agama Y. Jadi biarlah Islam sebagai agama bagi yang menyakini Muhamad SAW sebagai nabi terakhir dan pengikut agama X meyakini orang tersebut sebagai nabinya. Jadi kita bisa menjalankan agama masing-masing tanpa harus saling menyerang agama masing-masing.

Komentar saya ternyata kepanjangan hehee…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: