Go!Blog!

4 Sumpah Pak Harto

Posted on: February 5, 2008

Tulisan dari si Lalat a.k.a Kyai Mbeling. Aku ambil dari milis, sayangnya tidak disebutkan sumber resminya, eniwei, at least isinya gak jauh beda sama apa yang di sampaikan oleh Cak Nun di TV waktu di wawancara oleh Rosiana Silalahi di hari pemakaman Pak Harto.

Emha Ainun Nadjib

Setelah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, mestinya 20 Mei 1998
(sembilan puluh sesudahnya) adalah Hari Kebangkitan Nasional ke-II,
karena pada hari itu Pak Harto memutuskan untuk berhenti jadi presiden
yang diumumkan besok paginya, 21 Mei. Tapi karena salah langkah, maka
kemudian ternyata 20 Mei 1998 adalah Hari Kebangkrutan Nasional.

Kebangkrutan itu bisa diartikan sebagai puncak krisis yang dihasilkan
oleh ujung pemerintahan Orba, atau bisa juga dimaknai sebagai awal dari
kebangkrutan yang lebih total karena reformasi sampai empat tahun
kemudian tidak kunjung menemukan jati dirinya, substansi perannya serta
proporsi historisnya.
Mungkin saja Hari Kebangkitan Nasional ke-II adalah seratus tahun
sesudah kebangkitan yang pertama. Artinya reformasi yang prematur ini
memerlukan 10 tahun untuk menata dirinya kembali dan akan benar-benar
bangkit kesadarannya pada tahun 2008 lagi dan akan terwujud “bulan madu
kemerdekaan ke-II Republik Indonesia” sesudah tahun 2010.


Itu sepenuhnya tergantung kita sendiri. Kalau kita mengisi negara ini
dengan kelakuan maling, perampok, penipu, pengemis, pendusta, keculasan,
egosentrisme golongan dlsb yang amat subur di masa reformasi — ya tak
usah memimpikan Hari Kebangkitan Nasional. Kita bangkit sendiri-sendiri
saja dengan istri kita di kamar kita masing-masing.

Kalau kesiapan kita adalah bergiliran menjajah rakyat sendiri, mencuri
harta negara kita sendiri untuk masuk kantong golongan dan pribadi, ya
mari saling busuk sampai kapanpun. Kalau hari ini adan masa depan bangsa
ini kita isi dengan permusuhan, kebencian, pandangan-pandangan
subyektif, kegairahan untuk menghancurkan sesama bangsa sendiri – ya
mari bersiap untuk kapan-kapan saling ber-tiwikrama.
Kita telah salah mengawali reformasi dan kini menikmati berlanjutnya
kesalahan-kesalahan itu demi kepentingan golongan kita sendiri. Yang
paling susah adalah Anda dan saya yang tidak punya golongan apa-apa,
tidak dicatat oleh negara, tidak dilirik oleh media, dan tidak
diperhitungkan oleh mata sejarah. Mudah-mudahan itu berarti Anda adalah
Satria Piningit, kekuatan sejarah yang disembunyikan dan memang
tersembunyi dari wacana-wacana yang berlaku. Anda bekerja di daerah
tersembunyi di balik panggung yang gegap gempita, untuk mendidik rakyat
agar mulai belajar tidak gampang dibohongi dan dijebak serta pandai
memilih apa saja dari makanan sampai presiden – sehingga rakyat nanti
akan tertuju matanya kepada Satria Pinilih.

Tanggal 9 April 1998 saya membuat Seleberan Terang Benderang yang kami
sebarkan dan ditempel di tembok-tembok di Jogja. Judulnya “Suharto Harus
Segera Turun dan TNI Harus Berpihak kepada Rakyat”. Tentu saja tak ada
koran atau teve yang memuat itu, karena pada waktu itu semua media
adalah media Orba. Beberapa waktu kemudian media-media Orba itu bubar
mati dan lahirlah media-media anti-Orba seperti yang Anda nikmati
sekarang ini.

11 Mei 1998 jamaah Padang Bulan di Jombang wiridan ramai-ramai karena
besok paginya akan terjadi sesuatu yang menjadi tonggak sejarah bangsa.
12 Mei kasus Trisakti. 13 dan 14 Mei kerusuhan. 15 istirahat sebentar.
16 sambungan kerusuhan di Solo, dst. 16 Mei pas saya nyapu-nyapu di
hotel Regent Jakarta saya dijawil Cak Nur dan jadinya saya ikut
omong-mong yang kemudian melahirkan teks saran agar Pak Harto mundur
melalui salah satu dari empat cara. Saya seperti lalat yang ikut terbang
di pesawat.

Tanggal 17 teks itu dikonferensi-perskan di hotel Wisata, saya bagian
berdoa karena memang satu-satunya Mudin hanya saya, Ekki Syahrudin, Cak
Nur dll. Nangis ngguguk-ngguguk. 18 Mei teks itu keluar di koran dan
teve. Sorenya teks diserahkan kepada Pak Harto oleh Pak Saadillah
Mursyid. Dua tiga jam kemudian Pak Harto bilang setuju pada saran itu,
lantas menelpon Cak Nur dan minta bertemu dengan para pengusul besok
paginya. Jadi Cak Nur menghubungi semua yang rapat di Regent, termasuk
lalat, ditambah beberapa orang tua seperti Gus Dur, Pak Ali Yafi dll.
Yang hadir itu bukan perwakilan dari golongan apapun.

Pak Amin Rais tidak ikut karena beliau orang kuat, tegas dan terkadang
kereng seperti macan. Padahal Pak Harto juga macan. Nanti jadi duel
macan. Maka biarlah yang menghadapi macan itu orang-orang halus seperti
Cak Nur, Gus Dur dll, juga lalat. Sehebat-hebat macan tak bisa megejar
lalat, sehebat-hebat manusia tak bisa menangkap lalat dengan tangannya.
Sementara lalat bisa menggelitik bagian-bagian yang geli dari badan
macan atau manusia.

Lalat kok ikut masuk istana ini jadi masalah sampai sekarang. Kalau Gus
Dur Cak Nur kan tokoh, wajar kalau ketemu Pak Harto. Ini lalat kok
ikut-ikut. Cak Nur dan pihak Istana kok ya bodohnya memperbolehkan lalat
ikut masuk. Pak Malik Fajar, satu dari sembilan orang yang ketemu Pak
Harto 19 Mei itu, ketika ditanya mahasiswa bagaimana kok sampai lalat
ikut masuk istana, beliau menjawab: “Embuh arek sitok iku kok melok
ae…”. Entah bagaimana kok anak kecil itu ikut-ikut saja.

Tapi lha kok kemudian Habibi yang jadi presiden? Ini awal kesalahan
reformasi. Kasihan Pak Habibie. Naik ke kursi untuk dikutuk, didendami
dan diejek. Ketidakpuasan meluas ke mana-mana dan lama-lama menjadi
epidemi sampai sekarang. Mestinya kalau Suharto turun ya MPR bubar, wong
MPR Harmoko itu sembah sungkem kepada Pak Harto. Sudah disiapkan Komite
Reformasi, terdiri dari 45 orang al. Gus Dur Mbak Mega Pak Amin dll,
yang secara logis berhak menerima kekuasaan yang dilepaskan tidak hanya
oleh Pak Harto, tapi juga semua perangkat sepert MPR. Komite Reformasi
bertindak sebagai MPR-Sementara yang akan mengangkat Kepala Negara
Sementara Prof.Dr.H.Amin Rais yang ditugasi untuk membikin Pemilu
selambat-lambatnya 6 bulan sesudah tanggal 21 Mei 1998.

Kalau pengalihan dari Orba ke pemerintahan reformasi bersifat total
dengan Komite Reformasi, mungkin kadar ketidakpuasan dan dendam antar
golongan tidak sebesar sekarang. Tapi bangkitnya Reformasi malah
diwakili oleh Habibie yang pangerannya Pak Harto sendiri, jadinya
miss-ejakulasi.
Pak Harto jatuh karena tiga faktor. Pertama desakan mahasiswa dan amuk
rakyat. Kedua karena Pak Harto gagal merayu Cak Nur untuk memimpin
Komite Reformasi – kebetulan 10 menit sebelum ketemu Pak Harto, Cak Nur
dan saya bikin gentleman-agreement bahwa kami berdua tidak akan bersedia
masuk institusi apapun yang menggantikan pemerintahan Pak Harto. Jadi
Pak Harto pasrah dan berhenti. Ketiga, Pak Harto memang mau tidak mau
harus lengser karena menteri-menterinya yang sejak dulu dijunjung dan
dibikin kaya oleh Pak Harto paa 20 Mei malam menjegal Pak Harto dengan
mengundurkan diri dari kabinet. Rumah Pak Harto tak bertiang lagi dan
ambruk.

Dari 45 anggota Komite Reformasi 43 reformis. Yang tidak reformis hanya
tiga : Pak Harto, Wiranto dan Akbar Tanjung (yang ternyata
reformis…..). Tapi semua orang traumatik kepada Pak Harto, sehingga
Pak Amin sendiri tidak percaya kepada Komite Reformasi, dan sayangnya
Cak Nur tidak sanggup menjelaskan kepada Pak Amin dan publik bahwa
Komite Reformasi adalah bentuk awal dari reformasi total. Semua kawatir
bahwa Pak Harto masih akan turut campur dalam Komite Reformasi. Padahal
apa artinya 3 orang melawan 42 orang.

Takut pada keterlibatan Pak Harto, tapi malah melantik anak emasnya Pak
Harto menjadi presiden. Padahal Pak Harto, yang tahu bahwa semua orang
Indonesia tidak lagi percaya kepadanya, bersumpah kepada Tuhan empat bab
: 1- Saya, Suharto, mantan presiden RI, tidak akan melakukan apapun
untuk berkuasa kembali. 2- Bersedia diadili oleh sistem hukum negara
atas segala kesalahan. 3- Bersedia mengembalikan harta yang terbukti
oleh pengadilan sebagai milik rakyat. 4- Tidak akan ikut campur terhadap
segala yang berkaitan dengan kekuasaan negara.

Saya menginisiatifi Husnul Khatimah Suharto itu dan dituduh Arbi Sanit
sebagai mesin politiknya Suharto. Arbi pura-pura tidak tahu bahwa kalau
Pak Harto bilang kepada Tuhan bahwa ia mau tobat, Tuhan menjawab: “He,
To, kamu selesaikan dulu masalahmu dengan rakyat Indonesia, baru
Kuterima tobatmu”. Artinya, tobatnya Suharto adalah legitimasi dan
tambahan motif untuk menyeret Pak Harto ke Pengadilan.
Di Jogja, saya menginisiatifi acara pertemuan Sri Sultan dengan rakyat.
Saya diskusi dengan HS, AS dan HN – aktivis mahasiswa – saya menyarankan
Jogja bikin Pisowanan Agung (entah dari mana saya tahu kata-kata itu).
Mereka bergerak dan acara itu benar-benar berlangsung. Saya sendiri jadi
lalat di Jakarta, sehingga dalam acara yang saya sendiri yang
menyarankan itu Butet Kertarajasa berpidato mengejek saya sebagai
konsultan mendadaknya Pak Harto dengan nuansa komunikasi yang
mencitrakan bahwa saya orang Orba alias pekatiknya Pak Harto.

Ah, sekian dulu….kapan-kapan kita sambung lagi di forum bumi maupun
langit.****

Emha Ainun Nadjib

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: