Go!Blog!

Semangat Pencarian Amanda

Posted on: December 2, 2006

Sekitar 2 minggu sebelum Ramadan lalu, seorang gadis bule bermata biru,
dengan penutup kepala yang sangat minim hadir di kelas “Forum for non Muslims”
Islamic Center New York. Seperti pendatang-pendatang baru, gadis ini diam, tapi
nampak matanya tajam memperhatikan semuanya, mulai dari pejelasan-penjelasan
mengenai Islam hingga ke wajah-wajah peserta forum.

Berbeda dengan peserta lain yang terkadang, nimimal, memperlihatkan wajah
senang (pretending to be pleased). Gadis ini berwajah muram, walau sekali-sekali
ikut tersenyum jika ada selingan-selingan “jokes” di tengah-tengah diskusi.
Nampak senyuman itu dipaksakan, sehingga kadang saya ingin bertanya kepadanya
apakah ada yang mengganjal?
Pada saat tanya jawab, saya kemudian memancing dia untuk bertanya. Dengan
serta merta menanyakan sesuatu yang belum terlintas di benak saya selama ini. “If
Mohammed is a prophet, why he killed and robbed the people?” Seolah tak
percaya, saya balik bertanya: “What?” tanya saya, seolah tak percaya dengan
keterus terangan itu. Dia kemudian menjelaskan: “You know, before the first war
(Badar) in Islam, Mohammed went out to kill those passing traders and took their
belongings”.

Saya kemudian menenangkan diri lalu tersenyum kepada peserta lain yang hampir
juga tidak percaya dengan keberanian gadis tersebut. Saya justeru tidak ingin
langsung menanggapi pertanyaannya, dan justeru menanyakan latar belakang
gadis tersebut. Ternyata dia memang gadis dari sebuah perkampungan di IOWA. Daerah
tersebut sangat dikenal dengan sebutan “Red Neck” (berleher merah) dan
sangat racist. Dia juga menjelaskan bahwa sekarang ini dia bekerja sebagai “peneliti
” di Institute of Science kawasan Harlem, New York.

Setelah tanya sana sini, didapati kemudian bahwa dia ini mengenal Islam dari
seorang penjaga tokoh di Harlem. Penjaga tokoh itu ternyata suami dari Huda
(lihat cerita I am the second wife). Beliau inilah yang setiap kali gadis ini
singgah untuk membeli sesuatu tidak segang-segang membagikan “flyer” tentang
Islam. Hingga pada akhirnya keingin tahuan gadis ini untuk tahu Islam semakin
menjadi-jadi, tapi dengan latar belakang yang memang kurang enak.

Gadis ini dianjurkan oleh suami Huda untuk datang ke Islamic Center dan
belajar Islam pada “Islamic Forum for non Muslims”. Maka pagi itu, sebelum peserta
lain tiba, dia telah duduk dengan tenang tapi dengan pandangan yang cukup
tajam. Pertama kali saya sangka seorang mahasiswa jurnalisme Columbia, yang
selama ini memang sering meliput diskusi itu. Ternyata dia adalah Amanda. Seorang
gadis IOWA yang kini menjadi peneliti di sebuah badan ilmu pengetahuan di kota
New York.

Hari itu pertanyaan-pertanyaannya memang sangat banyak, dan kebetulan waktu
sangat terbatas. Jadi saya usulkan agar dia mengemailkan ke saya semua
pertanyaannya dan mengajak berdiskusi lewat email. Diapun menyetujuinya. Sesampai di
rumah di malam hari, saya buka email, ternyata Amanda telah mengirimkan email
dengan 4 halaman pertanyaan yang di”attched” (dilampirkan). Semua pertanyaan
itu ditulis dengan nada sinis dan menyerang (offensive). Mulai dari
masalah-masalah ketuhanan, Muhammad (SAW), hingga kepada masalah-masalah sosial.

Amanda juga mengusulkan agar kiranya saya punya waktu khusus untuk berdiskusi
dengannya. Alasannya, kali ini positif, dia tidak ingin memberikan persepsi
salah tentang Islam kepada peserta “Islamic Forum” yang lain. Atas usulan ini,
saya setujui. Hari kamis disetujui setelah jam kerja Amanda akan datang ke
Islamic Center untuk berdiskusi.

Sejak itulah, Amanda mulai datang setiap Kamis sore dengan sejumlah
pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Tapi karena terlanjur masuk bulan Ramadan, maka
Amanda selalu datang bersamaan dengan waktu berbuka puasa. Sehingga terkadang
diskusinya terpotong dengan acara buka puasa. Tidak lupa saya mengajak Amanda
menikmati hidangan buka puasa. Dia nampak menikmatinya.

Setelah beberapa lama berdiskusi setiap Kamis, terkadang diselingi dengan
debat yang cukup sengit, dan bahkan sedikit emosional, suatu hari saya
mendapatkan email dari Amanda yang berbunyi: “I am starting feeling the faith in Islam.
I think you are a good salesman”.

Sambil bercanda saya jawab emailnya: “yes, I am a good businessman but never
been rich because I sell the most valuable thing for no material returns”.

Sejak saya menerima email dari Amanda di atas, setiap kali datang ke kelas
dia semakin kalem. Pertanyaan-pertanyaannya semakin rasional, dan bahkan selalu
bertanya: “Is is ok to ask this question”? Saya selalu menjawab: “In Islam,
you can ask anything without being hesitant. Inquiring is a human nature, and it
’s very much supported by Islam”.

Setelah lebaran, Amanda saya undang untuk hadir serta dalam acara Halal
bihalal di kediaman Dewatapri New York. Tanpa saya sangka, ternyata Amanda
menyimpang banyak hal yang sifatnya khusus Indonesia. Dia mengatakan: “I did not know that you are from Indonesia until now”. Lalu dia memulai membuka perdebatan
tentang “religious freedom” dengan berbagai kasus di Indonesia, termasuk kasus
Lia Aminuddin.

Menurutnya, penangkapan Lia Aminuddin itu bertentangan dengan ajaran Islam
yang mengajarkan “kebebasan beragama”. Dia kan hanya mengekspresikan
keyakinannya. Kenapa lalu ditangkap?

Saya kemudian mencoba menjawab bahwa apa yang dilakukan oleh Lia Aminuddin
bukan mengekspresikan keyakinan, tapi mendistorsi keyakinan yang telah eksis.
Kalau Lia Aminuddin mengaku menciptakan “keyakinannya” ya silahkan. Tapi
mengakui Islam sebagai keyakinannya tapi kemudian mendakwahkan sesuatu yang justeru secara mendasar bertentangan dengan Islam, itu adalah “distortion”. Dan
inilah yang menjadi masalah.

Singkat cerita, setiap kali Amanda saya berikan buku pasti dihabiskan dalam
waktu yang singkat. Bukan sekedar dibaca, tapi dipahami sekaligus dikritisi.
Buku Maurice Bucaile: “Science, Qur’an dan the Bible” dibaca dalam 3 hari.
Ternyata dia sangat tertarik karena memang bidangnya. Tapi pada saat yang sama
dikritisi bahwa buku ini berlebihan dan seolah melihat Al Qur’an itu buku
science.

Email terakhir dia minta segera didoakan. “My heart is willing, but my mind
is curious to know more”. I am praying before going to the work now”, kata
dia. Malah lanjutnya: “I feel soon to be Muslim, but I don’t know when”.

Saya hanya menasehatkan: “The best advisor in life is your own heart. Ask
your heart and judge with your sound mind. Do not let your mind turn down what
your heart sees good for you”.

Teman-teman,

Saya tuliskan cerita ini agar rekan-rekan membantu Amanda dengan doa. Semoga
segera dimudahkan oleh Allah SWT, bagaimanapun caranya. Sebab hidayah hanya di
tanganNya dan hanya Dia yang tahu bagaimana menyampaikan hidayah itu kepada
siapa yang dikehendakiNya.

Wassalam, 29 Nopember 2006

7 Responses to "Semangat Pencarian Amanda"

semoga amanda segera mendapatkan hidayah-Nya….

Allah akan selalu memberikan jalan yang terbaik untuk umat-Nya…

ini merupakan suatu perjalanan hidup seseorang
untuk mencari kebenaran, sangat menarik, semoga
amanda di beri hidayah dari ALLAH

Semoga Amanda mendapat Hidayah dari ALLAH SWT

semoga 4JJ1 SWT menuntunnya hingga mendapatkan secercah cahaya-Mu.Apabila seorang Amanda sepenuh hati mencari kebenaran yang hakiki tanpa kenal lelah,insya 4JJ1 hidayah-Nya akan ‘menyirami’ qolbunya yang kering tentang risalah Nabi Muhammad SAW.Sebagaimana yang difirmankan oleh 4JJ1 SWT”4JJ1 akan memberikan petunjuk kepada siapapun yang Dia kehendaki,yang benar2 mencari Islam rahmatallil’alamin”

suatu saat nanti ketika hati lebih banyak berbicara daripada akal , maka akan dituntun menuju jalan yang dikehendakinya , mau kemana langkah akan dituju tergantung sejauh mana dia menyikapi agama itu sendiri dalam kehidupan. sebab percuma kalau agama hanya menjadi atribut saja , semoga angin religi berhembus pada wajahmu yang sedikit banyak telah dipengaruhi kehidupan hedonis, sang ghaib memang tak pandang bulu untuk menentukan umatnya mau kemana , semoga jalan ada di jalan allah yang sesuai dengan hatimu.

Semoga Amanda mendapatkan hidayah, karena Allah Maha mencintai hambanya yang senantiasa ingin dekat dengannya, dan emoga kekasih yang brsamaku juga mendapat hidayah dari Allah, bahwa Islam lah ptunjuk kejalan yang benar dalam hidup yang trlalu singkat ini, amin

Tidak sederhana yang kita bayangkan jika kita ingin menemukan Tuhan. Aku sendiri sampai saat ini masih terus bertanya dimanakah Tuhan? Dulu aku pernah mencarinya di Pura dan di Kuil. Tapi pada akhirnya, aku berfikir bahwa Tuhan ada di dalam diri dan hati kita. Semoga kita semua bisa berkontemplasi, sehingga tidak terjebak bentuk, namun lebih mencari esensi.

Salam Hangat buat Amanda.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: