Go!Blog!

From India with Love (part 4 – end)

Posted on: November 21, 2006

Dengan sedikit terburu-buru kami duduk di tempat duduk sesuai nomor yang ada di tiket. Inilah pertama kali aku menaiki pesawat berbadan lebar, jika pesawat menuju Kuala Lumpur tempat duduknya diatur 2-2 (sama juga seperti pesawat Surabaya – Jakarta meski ada yang 2-3) di sini tempat duduknya diatur 2-4-2. 2 di sisi kiri, 4 di bagian tengah dan 2 di sisi kanan. Untuk kelas bisnis beda lagi, karena tempat duduknya khusus, yang bisa direntangkan untuk kenyamanan tidur penumpang. Pun untuk satu tempat duduk didesain mirip box bayi dan tentunya lebih besar dari tempat duduk kami yang kelas ekonomi.

Untungnya ada monitor kecil di tiap sandaran di masing-masing tempat duduk, inilah satu-satunya hiburan (selain GPS-like monitor yang menunjukkan posisi pesawat di atas bola dunia serta informasi lain, seperti jarak tempuh, lama penerbangan dll) yang menemani penerbangan kami menuju Mumbai.


Beberapa saat setelah lepas landas dan pesawat dalam kondisi stabil, terdengar pengumuman bahwa fasilitas hiburan sudah diaktifkan dan bisa digunakan plus sedikit instruksi bagaimana cara pengoperasian, dan sesaat kemudian dibagikan EarPhone oleh para Flight Attendant.

Ada dua cara pengoperasian alat multimedia ini, pertama lewat tombol yang ada di sekitar monitor atau lewat wired remote controller yang di sisipkan di sandaran tangan di tiap tempat duduk. Remote Controller ini menjadi satu dengan telfon satelit yang bisa digunakan untuk menghubungi nomor di bumi dengan menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran.

Dari ‘monitor ajaib’ ini kita bisa melihat film atau mendengarkan musik. Kebetulan disitu di sediakan film yang belum pernah aku tonton, MI:3. Jadilah aku habiskan waktu penerbangan dengan menonton Cak Tom beraksi.

4 jam kemudian tibalah kami di Mumbai, salah satu kota besar di India.

Sesaat setelah menginjakkan kaki di terminal kedatangan Internasional kami sudah dibuat terkejut dengan keadaan Airport. Jauh berbeda dengan Juanda, Mumbai International Airport ? aku kasih empat jempol deh…. tapi gak ke atas KE BAWAH!! Keadaannya tak ubahnya Terminal Bungurasih (Terminal Purabaya Surabaya). Lantainya yang kusam, kacanya yang kusam juga, dan fasilitas lainnya yang serba ‘out of date’.

Untungnya gak ada masalah berarti di bagian imigrasi, mengingat kami tidak punya pengalaman sekalipun dengan imigrasi di negeri orang, kecuali waktu di Malaysia beberapa jam sebelumnya. Cuman satu pesan yang kami ingat “Jangan menjawab jika tidak di tanya dan bicara seperlunya!!”

Keadaan di luar Airport tak jauh beda, di Bandara Internasional parkir mobil aja tidak teratur, bayangkan saja mobil yang kami tumpangi hampir saja menabrak mobil lain karena tak ada yang mau mengalah. Lepas dari ‘kemacetan’ parkir kami berangkat menuju hotel. Mandi, istirahat dan tidur.

Alhamdulillah, tiba juga di India.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: