Go!Blog!

A China Town Lady

Posted on: November 18, 2006

Pertama kali wanita ini datang ke kelas khusus non Muslims (Islamic Forum for
non Muslims) saya sangka sekedar iseng-iseng. Dia datang tapi hanya duduk
sebentar lalu meninggalkan ruangan. Tapi minggu selanjutnya dia datang lagi.
Sampai pada akhirnya saya Tanya: “who are you and are interested in learning Islam?
”. Dia menjawab: “yes, I feel disconnection”.

Setelah tanya kenapa merasa “disconnected?” Dia mengatakan bahwa saya selalu
berbicara tentang Islam dan agama lain, tapi agamanya tidak pernah
disebutkan. Saya Tanya: “What is your religion?” Dia menjawab bahwa dia beragama Budha. Sementara dalam kelas itu saya biasanya konsentrasi kepada agama Kristen,
katolik dan Yahudi.

Maka sejak itu setiap kali dia hadir di kelas, saya selalu menyebutkan
beberapa kaitan diskusi dengan agama-agama lain, termasuk Budha. Bagaimana agama
budha misalnya menitik beratkan ajarannnya pada “alam” dan “spiritual”, yang
sesungguhnya Islam lebih jauh memperhatikan hal-hal tersebut, tapi dengan
pendekatan yang imbang (balanced). Saya juga sempat memberikan hadiah sebuah buku
milik Harun Yahya “Islam and Budhism”.

Sejak itu perhatiannya ke kelas semakin konsentrasi. Bahkan setiap kali
selasai belajar biasanya dengan sopan (adat china) meminta kalau saya bisa
berbicara khusus dengannnya. Anehnya, sebelum memulai pembicaraan biasanya sudah
meneteskan airmata. Saya Tanya: “what really makes you crying?”. Dia bilang bahwa
hatinya cenderung ke agama Islam, tapi terlalu banyak dosa yang telah
diperbuatnya.

Saya kemudian menanyakan: “Dosa apa yang terlalu memberatkan anda?”. Dia
menjawab bahwa dia itu adalah penyembah berhala (patung-patung) yang menurutnya: “
Unforgivable” dalam islam. Rupanya dalam salah satu diskusi saya menjelaskan
bahwa semua dosa diampuni kecuali dosa “syirik”.

Setelah saya menjelaskan bahwa dosa syirik yang dimaksud adalah ketika sudah
menjadi Muslim lalu tetap melakukan berbagai kesyirikan, maka dia menjadi
senang. Bahkan sejak itu, setiap kali ke kelas, dengan bahasa Inggerisnya yang
kental china, bersemangat untuk mengajukan berbagai pertanyaan tentang
masalah-masalah praktis dalam Islam, misalnya shalat.

Eirine (saya belum menanyakan nama asli chinanya), itulah nama yang selama
ini kita kenal. Wanita yang berpenampilan sangat sederhana ini rupanya
berpendidikan tinggi. Beliau adalah professor anthropology pada City College, sebuah
universitas negeri di bagian atas (up town) kota New York. Rupanya yang
memperkenalkan Islam kepadanya adalah murid-murid Muslim yang belajar di college
tersebut. Secara kebetulan, saya memang cukup dikenal di kalangan mahasiswa di
college ini karena beberapa kali memberikan ceramah tentang Islam.

Bertepatan dengan malam Nuzul Al Qur’an, di masjid Al-Hikmah yang dimiliki
oleh masyarakat Muslim Indonesia diadakan “Open House Iftar” atau acara buka
puasa bersama dengan tetangga-tetangga non Muslim. Rupanya Eirine juga hadir
dalam acara tersebut. Saya yang kebetulan sebelum berbuka puasa itu menjelaskan
kepada non Muslim mengenai Islam, melihat Eirine nampak serius mendengarkan.

Setelah berbuka puasa, saya terkejut karena biasanya Eirine tidak terbiasa
langsung mendekat ke saya sebelum memberikan isyarat. Biasanya dengan mengangkat
tangan atau isyarat yang lain. Tapi saat itu setelah selesai memakan
kue-kuean, persis di saat akan dilaksanakan shalat magrib, dia mendekat dan
mengatakan: “ I think I don’t have any reason to delay it any more”. Saya tanya: “
delaying what?” Dia bilang: “I wanted to be a Muslim tonight”.

Dengan bersyukur kepada Allah SWT segera saya umumkan kepada jama’ah yang
memang membludak malam itu bahwa seorang sister akan mengucapkan syahadah. Di
saat saya minta untuk mengucapkan syahadah sebelum magrib, dia minta kalau diberi
waktu lagi. Saya tanya kenapa? Dia menjawab: “I am nervous”. Maka saya
putuskan untuk memberikan waktu kepadanya hingga Isha.

Alhamdulillah, dihadapan jama’ah Isha masjid Al-Hikmah, wanita China Town ini
mengucapkan syahadah diiringi linangan airmata dan pekik takbir jama’ah
masjid Al-hikmah. Allahu akbar!

Senin lalu, Eirine menyempatkan diri mengikuti ceramah saya tentang “Why al
Qur’an?” di pace University. Di universitas ini beberapa waktu lalu ditemukan
Al Qur’an di WC dua kali, dan sempat menjadi issue besar. Untuk itu, Muslim
Students Association menggelar public forum untuk menjelaskan kepada kemunitas
Pace Universitas tentang Al Qur’an dan kenapa Al Qur’an itu begitu disucikan.
Eirine yang hadir hari itu sudah lengkap dengan penutup kepalanya.

Bu Prof., selamat dan doa kami menyertai!

New York, 5 Nopember 2006
Syamsi Ali

2 Responses to "A China Town Lady"

Salam penuh kasih, damai dan sejahtera,

Bapak Syamsi Ali yg saya hormati, mohon sekiranya bapak menjelaskan kepada saya mengenai aturan yg tidak memperbolehkan lukisan manusia dalam islam; bukannya media tv (saat ini) “sifatnya” sama dengan dilarangnya keberadaan lukisan pada ajaran islam asli dahulu? Bagaimana mengatasi hal ini?

Terima kasih sekali.
Pozzzmo

Maaf sebelumnya,

Saya bukanlah Ust. Syamsi Ali. Saya hanya kebetulan menjadi member salah satu mailing list yang sama dengan Ust. Syamsi Ali. Tulisan-tulisan di atas Saya ambil dari postingan Beliau.

Sekali lagi mohon maaf.

Go!Blog.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: