Go!Blog!

Friday Prayer at Deccan Corner

Posted on: November 4, 2006

India, negeri yang penduduknya sebagian besar beragama Hindu dengan sungai Gangganya yang terkenal, disinilah aku dan keenam temanku ‘berjuang’, ‘bertapa’ memperdalam ‘ilmu kanuragan’. Lima dari kami adalah muslim, sama seperti 12% warga India lainnya.Dibandingkan dengan umat Hindu di India yang sekitar 82%, Muslim termasuk kaum minoritas.

Sudah sering kudengar, bagaimana susahnya mencari tempat ibadah di negeri orang terlebih sebagai kaum minoritas. Tak hanya muslim, tapi juga penganut agama lainnya, yang bisa jadi kesulitan menjalankan ibadahnya ketika dia pergi ke negara yang kebetulan agamanya menjadi agama minoritas. Atau mungkin kebetulan saja aku mendengar cerita-cerita sedih tentang para kaum minoritas ini sehingga seakan menjadi satu keyakinan bahwa kaum minoritas biasanya hidup sedikit lebih susah daripada kaum mayoritas.

Ketakutan itu sudah ada sejak sebelum berangkat ke India. “Dont Worry, there are more moslem in India than in Indonesia” kata salah seorang India waktu aku tanya. “And you’ll find the mosque easily” sambungnya. Mendengarnya sedikit membuatku lebih tenang, paling tidak ketakutan itu berkurang.

Sholat fardhu mungkin bisa dilakukan di apartemen, tapi sholat jum’at? Nah inilah sedikit cerita yang mungkin bisa diambil pelajaran (semoga).


Sholat jum’at pertama kali buat kami di India adalah jum’at kedua ketika kami berada di India. Loh kok ? Begini ceritanya. Kami berempat (yang berangkat pertama kali ke india)mengira bahwa kami tiba di India (Mumbai) pada hari Kamis malam, padahal hari itu adalah hari Rabu malam. Maka ketika kami di antar menuju Pune (tempat kami menjalani training selama di India) kami megira hari itu adalah hari jumat. Dan menurut Pak sopir perjalanan Mumbai – Pune memakan waktu sekitar 4 jam.

Mengingat jam berangkat dari hotel di Mumbai (Thane, aku tidak tahu persis ini salah satu distrik di Mumbai atau malah kota lain seperti halnya Mumbai dan Pune) adalah jam 9 maka kami akan tiba di Pune sekitar jam 2 siang, dan kami harus mencari masjid untuk melaksanakan sholat jum’at. Sebelum berangkat, kami sudah meminta Pak sopir untuk menurunkan kami di Masjid sekitar jam 1 siang. Entah karena lupa atau tidak menangkap maksud kami, pak sopir terus saja meski kami sudah berusaha mengingatkan beberapa kali. Waktu sholat Jum’at terlewat dengan sukses sampai kami tiba di Sharada Centre, lokasi dimana kami akan menjalani training. Dan solusi akhirnya kami hanya sholat duhur sebagai pengganti sholat jum’at yang sudah terlewat.

Konyolnya lagi, hari berikutnya yang kami anggap hari sabtu, kami lagi-lagi terlambat mengetahui kalau hari itu adalah hari jumat justru ketika jam sholat jumat sudah terlewat, tepatnya ketika jam sudah menunjukkan pukul 2.30 siang. Kami menjadi semakin merasa bersalah, pertama karena salah menghitung hari dan yang kedua terlambat mengetahui bahwa hari itu hari jumat plus melewatkan waktu sholat jum’at.Kejadian itu sempat jadi guyonan kami berempat, menertawakan ketololan kami bersama.

Hari Jum’at kedua, kami sudah menjalani training selama hampir satu minggu. kali ini keadaan juga membuat kami sedikit was-was, pertama karena kami tidak tahu dimana masjid terdekat kami hanya mengetahui namanya saja, dan kedua karena kami tidak tahu berapa lama sholat jum’at di India berlangsung, kami khawatir akan melebihi jam makan siang, sehingga mau tak mau kami harus minta ijin ke Tutor sebagai antisipasi jika nanti kami datang terlambat ke kelas seusai sholat Jum’at.

Deccan Masjid, begitu biasanya masjid yang akan kami tuju ini dikenal oleh muslim sekitar. Beberapa hari sebelumnya kami sudah berusaha mencari pemandu sesama muslim untuk mengantar kami ke sana. Tapi apa lacur, takdir berkata lain dan kami berempat harus berangkat sendiri ke sana. Dengan hanya sedikit petunjuk, kami naik oto (di jakarta dikenal dengan sebutan bajaj, padahal bajaj adalah pabrik pembuat kendaraan ini) kesana. Inilah pertama kali kami harus naik oto, karena untuk menuju ke Sharda Center dari apartemen kami ada mobil perusahaan yang siap mengantar jemput kami selama 2 minggu pertama kami di India.

Mungkin di jakarta beda, tapi di India setiap oto dilengkapi dengan meter atau argo. Kami disarankan untuk menggunakan meter itu sebagai patokan ongkos meski ongkosnya bisa ditawar. Setelah sepakat menggunakan meter berangkatlah kami berempat ke Deccan masjid dengan 2 oto.

Selesai? not exactly. Entah karena kurang beruntung atau apa, pak oto yang membawa kami ke Masjid tidak tahu persis dimana letak Deccan Masjid. hampir saja kami tersesat jika saja pak sopir tidak bertanya ke temannya sesama sopir oto, buntutnya kami harus membayar 20 rupee (sekitar 4000 rupiah) padahal biasanya hanya 10 rupee.

Tiba di Deccan Masjid, sudah banyak jamaah yang menunggu di luar. Deccan Masjid berada di salah satu sudut sebuah perempatan tak jauh dari Sharda Center, sekitar 1 Km. Dari luar tidak tampak sedikitpun bahwa apa yang mereka kerubuti adalah sebuah masjid, malah terkesan seperti pembeli yang mengerubuti pedagang kaki lima. bukan hanya tak ada kubah yang biasa ada di masjid di Tanah Air tapi pintu masuknya pun kecil dan dengan jamaah yang banyak otomatis pintu masuk tak kelihatan. Bagi mereka yang tidak pernah datang ke sana tidak akan mengira bahwa itu adalah sebuah masjid.

Setelah mencopot sepatu, aku menunggu seperti jamaah lainnya. Di dalam sudah penuh, mungkin nanti tiba waktu sholat baru bisa masuk. Tak lama kemudian iqomat dikumandangkan, aku bersiap masuk, tapi ternyata memang tidak ada tempat. Dan aku baru tahu kalau ada sholat jum’at shift dua.

Wudhu di Masjid ini harus dengan duduk, beda dengan di Indonesia yang dengan berdiri, lebih praktis (menurutku). Di setiap keran di sediakan tempat duduk permanen. Salah seorang temanku mengambil wudhu sambil berdiri tapi ditegur oleh jamaah lain agar wudhu dengan duduk. Terkesan agak kikuk juga, belum terbiasa.

Di dalam masjid dibagi menjadi dua bagian, depan dan belakang yang dipisahkan oleh sebuah teralis besi. Di bagian belakang terdiri dari dua lantai, memanfaatkan kondisi tanah yang lebih tinggi dari jalan. Pada shift kedua, bagian depan tidak di pakai, mungkin karena jamaahnya sedikit, tapi masih ada saja yang sholat di tangga. Ironis. Kenapa tidak di pakai semua saja ? toh ndak ada ruginya juga atau mungkin mereka punya pertimbangan lain. I dunno.

Khutbah jum’at di bawakan dalam bahasa arab, sambil membaca buku. Semula aku pikir buku ini semacam panduan dan akan terus dibaca pada jum’at-jum’at berikutnya, ternyata tidak tergantung khotibnya, sama seperti di Indonesia. Khutbah yang berlangsung singkat sekitar 10 menit di lanjutkan dengan Sholat jum’at.

Ada sedikit perbedaan cara sholat mereka dengan apa yang aku tahu selama ini. Pertama, bacaan Amin setelah imam selesai membaca fatihah dibacakan secara pelan, hampir seperti orang berbisik. Yang kedua adalah duduk tahiyat akhir mereka sama seperti duduk tahiyat awal yang biasa aku lakukan, yaitu dengan duduk di atas kaki kiri. Mungkin cara ini di pakai juga di Indonesia, dan selama ini aku belum beruntung menjumpainya sehingga aku sedikit kaget juga, meski hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.

Sholat jum’at selesai, saatnya kembali ke Sharda Center dan melanjutkan training. Naik oto lagi.

1 Response to "Friday Prayer at Deccan Corner"

pengalaman yang menarik….

wah gimana kalo sholat Jumat di Ethiopia??heheeee

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: